Ruginya Jadi Seorang Deadliner

 

Deadline


Dalam urusan menyelsaikan suatu tugas atau pekerjaan kalian pernah gak sih kalian punya pemikiran "aku kenapa sih" kalau belum deadline perasaan gak bisa mikir. Kalau iya berarti kita sama๐Ÿ˜†, kita adalah deadliner sejati. Pokoknya prinsip yang dipegang tu:

semua akan selesai pada waktunya yaitu pada saat deadline

Sejujurnya, aku pribadi sering bangeet sampai kepada tahap ingin sekali melawan jiwa-jiwa deadliner dalam diriku ini. Sampai-sampai rasanya marah atau kesal banget sama diri sendri, terus ngedumel, kuurang lebih bunyinya gini "yaampun kenapa aku kok jadi orang malas banget". Kalau lagi posisi jadi anak rumahan gini sampai-sampai disahuti sama orang tua "udah tau malas ya berubah". Pernah juga sampai pada titik punya tekad "Pokoknya mulai dari sekarang aku mau berubah"  eh gak lama kemudian pura-pura lupa lagi. Terus lanjut llagi ke kebiasaan lama.

Padahal kalau dipikir-pikir jadi orang punya habit buruk untuk menyelsaikan pekerjaan pada tenggat waktu itu sangat merugikan. Oleh karena itu kita harus melawan dan membunuh mental deadliner dalam diri kita ini. Dan untuk melawanya kita perlu tau apa kerugian yang akan kamu dapat kalau tetap mempertahankan jiwa deadliner dalam diri kita.

Berikut aku mencoba menguraikan beberapa kerugian-kerugian yang mungkin akan didapati kalau kita menjujung tinggi prinsip belum deadline belum bergerak:

  1. Tidak punya waktu untuk menyelsaikan tugas atau pekerjaan secara sempurna

    Pekerjaan yang diselesaikan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya biasanya akan berujung dengan berbagai potensi kesalahan. Karena dengan waktu yang singkat itu kita akan bekerja secara terburu-buru dan tidak punya kesempatan untuk memperhatikan atau menyempurnakan detail-detail kecil. Misalnya kalau tugas atau pekerjaan tersebut berhubungan dengan ketik mengetik kesalahan yang paling umum adalah salah ketik alias typo, dengan waktu yang singkat pasti yang terpikirkan oleh kita hanyalah yang penting selesai. Belum lagi kalau pekerjaan atau tugas tersebut merupakan sesuatu yang mempunyai resiko dengan hal-hal yang dapat melukai diri, maka kemungkinan paling fatal adalah terjadinya kecelakaan.

  2. Bekerja dalam tenggat waktu menambah pekerjaan baru yang mungkin seharusnya tidak ada.
    Bayangkan ketika kita bekerja secara terburu-buru kemudian kondisi yang selanjutnya adalah pekerjaan tersebut tidak sempurna dan bahkan memiliki banyak kesalahan, nah karena kesalahan tersebut kita diminta untuk merevisi dan bahkan diberikan sanksi atas kesalahan tersebut. Jadilah tugas atau pekerjaan yang seharusnya sudah selesai tersebut malah berkembang biak menjadi tugas-tugas baru  yang mana adalah sanksi atas kesalahan tugas pertama tadi. 

  3. Banyak kejadian yang tidak bisa dipredeksi
    Konsekuensi paling menyeramkan dari mengerjakan sesuatu pada tenggat waktu adalah pekerjaan tersebut tidak bisa selesai. Karena dengan waktu yang sempit kita akan terjebak dalam keadaan emosi yang cendrung tidak stabil, dengan keadaan tersebut maka akan banyak kejadian yang sebenarnya sepeleh dapat terasa sangat fatal. Contohnya bisa saja ketika kita sedang mengerjakan sesuatu melalui komputer lalu komputernya mengalami eror sehingga pekerjaan tersebut tidak bisa dikerjakan.

    Sebenarnya, mungkin masih banyak lagi segudang kerugian yang didapat kalau kita jadi deadliner. Tapi rasanya tulisan ini 3 hari tidak selesai-selesai (kwkwk). Akhir kata dengan banyaknya kerugiaan yang akan diperoleh kalau kita mengerjakan sesuatu secara deadline maka ada baiknya kita (diri ini terutama) untuk melawan bahkan kalau bisa membunuh mental-mental maunya deadline๐Ÿ˜…, saatnya berhenti sok sibuk padahal gak sibuk.

    Tidak bisa dipungkiri mungkin ada saja untungnnya jadi deadliner, tapi meski dipikir berapa kalipun masih banyak ruginya.
Rani Oktapiani
Hanya seorang seperti kebanyakan orang
Terbaru Lebih lama

Related Posts

7 komentar

  1. Gimana ya, selama ini menjadi seorang deadliner handal. Selalu bekerja ketika sudah terpaksa.

    BalasHapus
  2. Kadang udah tau juga ruginya jadi deadliner tapi masih saja betah sama predikat "deadliner" karna seketika ide itu lancar luncur ketika terpaksa mikir dengan tempo cepat wkwk

    BalasHapus
  3. apakah ini terinspirasi dari deadliner nulis di blog hhehe

    BalasHapus
  4. Manusia itu suka minta dipecut agar bisa mikir ya, Kak. Wkwk.
    Aku juga deadliner untuk pekerjaan yang membutuhkan otak berpikir tapi bukan tipe yang SKS (sistem kebut semalam) soalnya itu terlalu horor bagiku dan sesuai poin no.3, bisa aja ada revisi-revisi yang membuat waktu semakin mepet. Deg-degan + stress banget kalau di posisi itu ๐Ÿ˜‚, jadi aku selalu menghindari SKS kecuali untuk belajar bahan ulangan, baru deh SKS hahahaha

    BalasHapus
  5. Belakangan ini udah mencoba mengurangi penyakit deadliner. Sudah berusaha buat ngerjain sesuatu di awal waktu. Tapi penyakitnya, semakin jauh deadline, semakin malas otak buat mikir. Akibatnya, menyelesaikan pekerjaan jadi lambat, dan ujung2nya jadi deadliner wkwkwk

    BalasHapus
  6. Mungkin kebanyakan orang bertipe deadliner kalau udah diuber-uber waktu kan jadi ada tantangannya..hihihi

    BalasHapus
  7. Bukan saya banget deadliner.
    Saya suka migren sendiri, bahkan waktu deadline masih jauh ๐Ÿ˜‚

    Saya nggak suka banget yang namanya diuber-uber itu, baik tentang kerjaan, maupun hal lainnya.
    That's why sejak dulu bahkan untuk janjian saja, saya lebih memilih menunggu ketimbang ditunggu.

    Nggak enak banget soalnya ๐Ÿ˜

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih telah membaca, bagaimana menurut mu ?

Subscribe Our Newsletter