Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
sumber: pixabay.com

Kisah kasih di sekolah, apa yang terpikirkan ketika mendengar atau membaca kalimat tersebut ? cerita manis ketika menjalani masa-masa disekolah bersama si doi ?. Atau kenakalan, kerecehan ketika kelas kosong, bahkan momen-momen menegangkan ketika satu kelas dihukum karena suatu kesalahan ?. 

Pada kesempatan kali ini definisi kisah kasih di sekolah akan jatuh pada pilihan kedua atau bisa jadi tulisan ini tidak menempati definisi keduanya. 

Ada pepatah yang bilang masa-masa SMA adalah masa paling indah, eh tapi tulisan ini tidak akan bercerita tentang masa-masa SMA Ku. Kisah-kisah ini terjadi kala Aku menduduki bangku SMP dan mungkin bukan pula cerita yang dikategorikan indah-indah amat bahkan ada yang cendrung bisa dikategorikan memalukan tapi menurutku ini begitu berharga.

  1. Gagal Tes Ujian Masuk SMP
    Pasca lulus dari bangku SD aku dan beberapa temanku memutuskan untuk tes di salah satu SMP di Ibu Kota Kabupaten tempatku tinggal (note: aku tinggalnya di Desa). Sebagai salah satu anak mungkin yang bisa dikategorikan lumayan karena selalu mendapat juara diantara teman-teman se SD ku waktu itu, aku cukup percaya diri untuk mengikuti tes tersebut. 

    Seingatku ketika itu setelah keluar dari ruangan tes aku masih merasakan kepercayaan diri yang cukup tinggi bahwa aku akan lulus.  Setelah beberapa hari (lupa tepatnya berapa hari) pengumuman tiba. Untuk melihat pengumuman yang ditempelkan di papan pengumuman sekolah tersebut kami harus berdesakan dengan peserta lain, karena waktu itu belum terlalu maraknya jaman internet. 

    Hasilnya bisa ditebaklah ya dari sub judulnya, aku tidak diterima di sekolah tesebut. Ketika mengetahui hal itu rasanya mungkin kalau meminjam istilahku sekarang dunia seolah runtuh. Sesampainya dirumah aku sempat beberapa jam mengurung diri di kamar menangisi hal ini. 

    Entah bagaimana ceritanya ketika itu orang tuaku ditanya oleh orang tua temanku yang berhasil lulus tentang bayar membayar. Sempat juga waktu itu orang tuaku menghubungi kenalan mereka untuk membantu, namun entah gimana caranya alhamdulillah Allah menggagalkan rencana tersebut. 
    Allah itu Maha Tau Apa yang terbaik dan boleh jadi yang terbaik itu apa yang tidak kita sukai.
    Dan ujung dari kegagalan ini adalah aku dimasukan di salah satu SMP negeri yang lain. Pamor di SMP ku ini ketika itu memang jauh dibawah. Ketika mendaftar aku bahkan tidak melalui jalur tes seleksi. 
    Perjalanan pada masa lalu itu membawaku ketempatku memijakkan kaki di tempat sekarang ini.

  2. Tinggal Jauh Dari Orang Tua
    Karena akses jalan ke Desa ku waktu itu masih sangat sulit, untuk memudahkan orang tua ku memutuskan untuk menitipkan aku kepada salah Cicikku (adik Ibu). Namun hal ini tidak berlangsung lama hanya sekitar setengah smester karena aku sering bertengkar dengan sepupu laki-laki ku yang hanya berjarak satu tahun dibawahku. 

  3. Naik Truk Batu Bara
    Semenjak tinggal Kembali Bersama orang tuaku, untuk pergi kesekolah biasanya diantar oleh Bapak. Tapi karena Bapak harus bekerja tidak memungkinkan untuk menjemput ketika pulang sekolah. Ketika itu searah dengan Desa ku terdapat tambang batu baru, sehingga jadilah truk kosong batu bara menjadi alternatif transportasi untuk pulang kerumah.

    Namun untuk menyetop truk tersebut kami harus berjalan sekitar 1 kilo meter dari sekolahku. Sekali-kali jika waktu istirahat tidak pergi kekantin barulah bisa menikmati mewahnya naik ojek. Dengan begitu bisa lebih cepat dari yang lain sampai dan lebih duluan dapat tumpangan, karena biasanya berebut siapa-siapa yang duluan. Sedihnya lagi gak setiap sopir mau berbaik hati memberi tumpangan.

    Supaya nyaman diperjalanan biasanya kami naik berdua-berdua agar bisa duduk ditempat sopirnya atau kalau kepepet lapar hari sudah siang, ramai-ramai kami naik di bagian belakang yaitu di bak yang digunakan untuk mengangkut batu bara. Atau kalau lagi beruntung bisa dapat naik mobil yang akan menjemput karyawan.

    Sesampainya ditujuan aku masih harus berjalan lagi sekitar 600 meter untuk sampai kerumah karena Desaku tidak dilewati untuk ke tambang tersebut.

    Tapi untungnya bagian naik truk ini juga tidak berlangsung lama karena ketika menginjak kelas 8 SMP orang tuaku membuat keputusan yang cukup berani dengan membiarkanku tinggal ngekos sendirian.

Cerita waktu ngekos juga memberikan banyak cerita berharga mulai dari kenal dengan orang-orang dari berbagai latar belakang budaya yang sangat berbeda dariku, telat sampai 2 jam pelajaran tapi tetap ngotot mau masuk kelas sampai cerita seringnya menginap di Perpustakaan sekolah. Tapi karena tulisan kali ini sudah melampaui banyaknya tulisan yang biasanya maka mungkin akan berlanjut di Part selanjutnya saja (kalau ada). 

Semoga ditemukan sedikit hal dari sini~ 

Stay Safe~





Rani Oktapiani
Hanya seorang seperti kebanyakan orang

Related Posts

14 komentar

  1. Sejujurnya waktu pertama kali baca judul tulisan ini, di kepalaku langsung keputer lg Chrisye Kisah kasih di sekolah😆😂 Masa masa suka dan duka sekolahku pun banyak sih, pertemanan, keluarga, finansial, percintaan juga, sampe rasanya gak tau yg mana duluan yg mau diingat😂

    Tapi untuk cerita mbak, wahh rasanya ada yg naro bawang gitu, apalagi soal pengalaman naik truk tiap pulang sekolah:') tapi di sisi lain jadi ikut excited dan ngebayangin gimana rasanya pulang sekolah ramai2 naik truk, terus ngobrol2 sama teman menikmati waktu pulang sekolah, atau sekadar ngobrolin kejadian tadi di sekolah, *asal jgn kayak ibu ibu rumpi di film tilik aja* hehehehe.

    Semoga ada part duanya yaa, karena aku gak sabar pingin baca cerita lanjutannya! Such an inspiring story😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iya ya, aku juga lantas kepikiran Bu Tedjo dan rekan2nya itu😂.

      Tapi ini jarang banget sih diijinin naik dibelakang, krn beresiko, buat naiknya aja harus manjat-manjat krna pintu belakang Truknya gak dibuka. Belum lagi mikirin baju putih yg bakalan berunah jadi kehitam-hitaman kena bekas debu sisa-sisa muatan.

      Hapus
    2. Rena dan Rani inilah diaa... #eh

      Yaa, aku kira td bakal cerita tentang virus merah jambu, ternyata tidak. Hahaha.

      Menarik sekali mengenai praktik sogok menyogok ke sekolah negeri. Ini semacam rahasia umum yaa. Semoga praktik semacam ini segra hilang.

      Untuk naik truk batubara, itu tiap hari kah? Keren. Aku kalo smp kmren cuma naik angkot, kadang bus kota. Tidak seekstrem Rani yg naik itu truk batubara 😅

      Hapus
  2. Kisah kasih di sekolah. Rena kira pada tulisan ini bakal ada virus-virus atau monyet-monyet nya. Penuh perjuangan ya menuju sekolah. Tapi itu mending sih, gak separah film Jembatan Pensil :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Ren, selalu ada syukur yang harus disyukuri.

      Hapus
  3. Ceritanya perjalanan menuju sekolahnya hampir sama dengan saya. Bedanya, saya mengalami pahitnya pas SMA.
    Pengalaman pahit semacam ini harus bisa kita syukuri, sebab pasti akan jadi kenangan manis di masa depan. Salah satu manisnya, cerita saya jadi masuk nominasi dan menang buku gratis di 1m1c. Malah pamer hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah kalau itu memang pengemasan ceritanya bagus. Kebetulan dengan sangat listnya waktu itu yang kebagian saya ^^

      Hapus
    2. Syukur banyak yang suka, padahal cuma berbagi derita.

      Hapus
  4. Sebuah kisah kasih yang sangat menarik menurutku. Bukan berkasih dengan sang pacar seperti yang dibayangkan oleh kebanyakan orang, tetapi memiliki kekasih terhadap mamang truk batu bara #ehhhh wkwkwk just kidding
    Perjuangan pergi/pulang sekolah yang sangat menantang menurutku. Aku pribadi sebagai seorang yang hidup dan besar di kota ngga pernah merasakan pengalaman-pengalaman menantang seperti mbaknya wkwkk
    Suatu kenangan yang enak dikenang, namun tak sedap diulang. Semangat buat mbaknya!

    BalasHapus
  5. Wah saya pernah nulis tentang pejalan kaki. Dulu waktu SD sampe SMP diriku sering jalan kaki ke sekolah bareng temen, itu jauhh banget sekitar 3 km lah ya. Kalo hitungan menit antara 45 menit sampai 1 jam. Terlihat kisah yang sedih, tapi itu bagiku masuk kategori indah juga mbak😉

    BalasHapus
  6. Jadi ingat dulu waktu SMP aku juga pernah daftar sekolah favorit di kota karena aku lumayan dapat rangking saat SD. Lha ternyata ngga tembus juga.😂

    Berarti Rani saat SMP ada di Kalimantan atau Sumatra ya? Soalnya suka naik truk batubara, sementara penambangan batubara seingatku cuma ada di Sumatra dan Kalimantan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kan aneh, tapi mungkin akunya memang cuma jago di kandang aja :D, di Sumatra hehe.

      Hapus
  7. Pengalaman yang tak terlupakan untuk sebuah prestasi ya kak, penuh kisah dan perjuangan untuk melewati semuanya, saya juga pernah pas daftar smp favorit saat itu SMP N24 tapi apalah daya saya gagal, padahal itu sekolah dekat dengan rumah bisa di tempuh dengan berjalan kaki.
    Salam kenal kak Rani.

    BalasHapus
  8. smp sudah kos? sama seperti mbak aku sih, tapi cuma beda kabupaten saja, meski begitu terasa cukup berani juga soalnya itungannya masih awal awal sekolah tapi uda berani tinggal jauh dari rumah sekalian mandiri ya, ketimbang agak berat pas naik transportasinya karena terkendala medan yang berliku, salut hehehe..aku sendiri baru ngwkos pas uda kuliah sih, tapi langsung jauh

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih telah membaca, bagaimana menurut mu ?

Subscribe Our Newsletter