Puisi: Limbung

Setelah beberapa lama tidak menulis dengan label puisi, akhirnya ada satu yang bisa ku bagi. Sejujurnya puisi ini sudah lama ada dan pernah diikut sertakan dalam sebuah lomba, tapi bisa dibaca sendirlah ya. Dari sini akan terlihat bagaimana hasilnya :(. Puisi ini diberi judul Limbung. 

Dalam tafsirku limbung adalah dimana keadaan yang tidak seimbang, mungkin rasanya kalau dibadan kayak lagi anemia gitu. Nah dalam puisi ini kira-kira kalau kamu baca terbesit ?

Oh iya bye the way ini adalah hari ketiga dalam tantangan tujuh hari menulisku, ya walaupun bisa dibilang ini curang, karena sejatinya puisi ini sudah ada sebelumnya. Sebab hari ini beberapa urusan lumayan hetic (sudah mulai beralasan lagi). Ya udahlah ya, selamat membaca~

Puisi Limbung

Puisi: Limbung

Kalbu membuncah bak leburnya dedaunan diterpa puting beliung
Kita sedang di ambang kebingungan
Gejolak dalam dada terus menyala, perlahan membakar setiap detik
Sedang sang logika menabuh gendrang perang siap menantang sang diam yang terus meneriaki  untuk tetap bungkam agar perut senantiasa terisi

Kemana harus dimuarakan sang suara?
Haruskah direlakan pada sang diam agar ia mendapat jatahnya
Lalu kusimpan semua rekam jejak sang suara dalam gaung samar atau bahkan memilih terbungkam dalam genangan tawa pengusa, terhibur oleh wajahku yang pasi ketakutan terimpit celoteh-celotehnya 

Atau ku berlari saja
Sekuat tenaga, mengukuhkan sang suara agar tak bergetar apa lagi gentar
Kemudian menumpahkan semua yang berkecamuk pada relung logika
Bersikap acuh pada sang diam yang maunya bertekuk lutut pada kekuasaan sang pembungkam 
Mengabaikan perut keroncongan demi membuat sang suara memelesat dari kerongkongan 

Kata orang ini hanya persoalan kosong
Hidup enak kok ingin dibuat susah
Cukup perut kenyang, masalah sang suara tinggal bunuh saja dengan es kelapa 

Ah biar saja!
Mereka tak mengetahui, lagi pula sang suara tak ada lagi dalam diri mereka, 
induknya logika telah lama mereka tanggalkan demi perut kenyang atau sekedar cari aman

Sedang bagi kita?
Perkara ini bak harus memilih antara mati dan mati,
Mati dengan perut kosong atau
Mati tercekik sang suara yang terus tumbuh dan bersarang dikerongkongan sempit tanpa celah udara

Sedang hidup ?
Ah seandainya ia milikku sendiri

Rani Oktapiani
Hanya seorang seperti kebanyakan orang

Related Posts

2 komentar

  1. Bagu bangeeet puisinyaaa😭 Aku sampe baca bolak balik karena takut salah paham sama isinya, tapi sepemahaman aku ini mengarah ke persoalan silent majority atau hilangnya kebebasan berpendapat ya? cmiiw😂 Eitherway, aku tau puisi ini tentang sesuatu yg baik yg tidak bisa sepenuhnya kita dapatkan. Semoga sebagai makhluk sosial kita bisa lepas dari belenggu limbung ini ya, sebab gak enak rasanya kalau harus selalu kebingungan dan terombang ambing ketika dihadapkan dengan suatu hal.

    BalasHapus
  2. Bagian terbaik dari puisi ini adalah memilih mati dan mati. Sebuah pilihan bunuh diri.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih telah membaca, bagaimana menurut mu ?

Subscribe Our Newsletter