Wisuda Corona dan Perjalanannya


Wisuda Crona dan Perjalananya-Apa yang dibayangkan ketika mendengar kata wisuda ?
Memakai Toga di Auditorium Universitas ?
Dipindahkan tali toga oleh Rektor ?
Didatangi keluarga ?
Berswafoto bersama rekan-rekan seperjuangan ?

Namun, ditahun yang istimewa ini (2020) ada yang berbeda, semua hal yang terbayangkan mengenai acara seremonial kelulusan dan penyerahan ijazah tersebut harus ditepis (agak) jauh. Kondisi Pandemi Covid 19 saat ini memaksa berbagai kegiatan harus tertunda atau dilaksanakan dengan cara yang berbeda. Salah satunya dalam dunia pendidikan, pembelajaran dilakukan dengan model pembelajaran jarak jauh atau secara daring, termasuk pada pendidikan tinggi. Mahasiswa yang sedang menjalani proses skripsi harus mengahadapi metode baru dalam menempuh seminar proposal/ seminar hasil/ ujian akhir (sidang) bahkan wisuda secara daring.
catatan pada planner yang sepertinya harus ditepiskan

Pada edisi ini juga dengan cerita berbeda, ini bukan puisi seperti biasa (tapi sebelumnya mungkin banyak puisi-puisi yang mungkin belum kamu baca). Tulisan ini bermaksud menjadi bagian dari sejarah setidaknya bagi diri sendiri dimasa yang akan datang, meskipun tidak ditulis dengan metode historis  yang memiliki empat langkah. 

Ini adalah cerita pengalaman pribadi tentang "wisuda ala-ala ditengah corona" dan perjalanan sebelumnya.

Menilik proses jalannya penulisan skripsi ku sejak sidang proposal pada bulan Agustus 2019 target kelulusan Februari sebenarnya hal adalah hal yang kami gadangkan bersama (termasuk pembimbing) mengingat program studiku jarang terdengar memiliki lulusan dengan predikat lulusan tercepat (walaupun tidak mengerti apa kegunaannya😁), namun qadarullah baru bisa menjalankan proses sidang pada Februari mepet ke Maret. 

Bulan Februari ketika kami sidang adalah proses ujian/seminar terakhir yang dilakukan secara offline waktu itu keaadaan masih (sedikit) normal. Selesai sidang aku masih sempat mengambil toga dengan besar harapan bahwa wisuda masih bisa berjalan dengan bayangan seperti diatas. Pertengahan bulan Maret keaadaan mulai bergeser, kasus Corona di Indonesia mulai mewabah dengan ditemukan total 117 kasus. Waktu itu 16 Maret kuputuskan untuk mudik, mengingat pendaftaran untuk wisuda juga belum dibuka.

Dilema membuncah ketika pendaftaaran untuk penerbitan ijazah dibuka pada 2 April dan terakhir penyerahan data pada 19 April. Pengurusan pendaftaran harus dilakukan secara langsung di Indralaya (lokasi kampus) karena berkas harus diserahkan secara fisik sedangkan kondisi sangat menyeramkan untuk melakukan perjalanan. Dengan berbagai pertimbangan mengingat segala resiko akhirnya aku memutuskan untuk tidak pergi ke Indralaya walaupun ketika itu aku sudah membeli tiket Kereta Api, beruntungnya rekan-rekan yang memutuskan untuk mengurus pendaftaran dengan baik hati bersedia meluangkan tenaga untuk mengurusi berkasku. Sempat terjadi berbagai permasalahan karena banyak dari berkasku yang kurang dan tidak bisa dikirim karena posisi berkasnya sendiri ada dikos di Indralaya. Waktu itu aku sudah sangat pasrah, tapi entah bagaimana alhamdulillah bisa diatasi.

Selesai proses pendaftaran, selanjutnya yang menjadi kegelisahan adalah karena sampai tanggal ditetapkannya wisuda belum ada kabar mengenai keberadaan ijazah. Padahal saat itu ijazah tersebut sudah sangat dibutuhkan untuk suatu kepentingan yang hampir mendekati batas akhir pendaftaran. Dengan saran dari dosen ku akhirnya aku memutuskan untuk mengurus surat keterangan lulus dengan bantuan rekan yang domisili di Indralaya. Tetapi hal tersebut juga tidak bisa dilakukan sampai satu minggu kedepan karena beberapa hal, padahal sudah menjelang 6 hari penutupan. Sore harinya (14 Mei 2020) penantian tersebut menemui titik terang, ketika admin prodi mengirimkan sepucuk surat yang berisi pemberitahuan bahwa ijazah dan transkip sudah bisa diambil pada 18 dan 19 Mei 2020 di Kampus Palembang (kampusku punya dua lokasi).

Surat pemberitahuan tersebut kembali memancing riuh digrup WhatApps kami (saya dan 3 orang rekan lain). Isinya kurang lebih tentang ketakutan untuk pergi ke Palembang karena saat itu kasus Covid di Palembang sedang meroket. Tetapi secara pribadi aku memiliki perasaan yang sedikit berbeda karena sejak awal kabar tersebut aku sudah memutuskan untuk berangkat, karena kebutuhan akan ijazah tersebut sedkit mendesak menurutku waktu itu, ditambah lagi dengan pertimbangan memikiran nasib barang-barangku di kosan yang sudah ditinggal hampir dua bulan.

Pada 17 Mei sekitar jam 10 malam aku berangkat menuju Indralaya dengan Bapak dan Kakak sepupu menuju Indralaya dan sampai pada pukul setengah 3 pagi. Sesampainya di kosan, benar saja keadaan kosan tidak terdefinisikan. Setelah membereskan sedikit kekacauan kami lanjut dengan makan sahur (bulan ramadahan ketika itu, lupa tepatnya hari keberapa yang jelas 10 hari teakhir). 

Paginya sekitar pukul 7 pagi, aku berangkat menuju Palembang (lokasi pengambilan ijazah). Sesampainya di lokasi aku bertemu dengan beberapa rekan satu fakultas, tidak ada salam-salam hanya tegur sapa. Pada pukul setengah 9 dengan protokol kesehatan antrian dibuka, pertama kami diarahkan kekamar mandi untuk cuci tangan, dicek suhu tubuh, selanjutnya kami diarahkan keruangan untuk mengisi formulir pengambilan ijazah dalam diruangan hanya dibatasi 2 sampai 3 orang. Setelah selesai mengisi formulir kami diarahkan bagian depan gedung untuk antri mengambil ijazah. 

 
Lokasi tempat pengambilan ijazah

Setelah mendapatkan ijazah dan transkrip berikutnya kami diminta untuk memfotokopy ijazah dan transkrip kemudian diserahkan kembali guna dilegalisir. Menunggu Ijazah dan Trnskrip selesai dilegalisir membutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga disela-sela waktu tersebut kami sempatkan untuk berfoto mengabadikan momen tersebut sekali-kali diiringi cerita dan celetukan lawak guna membesarkan hati guna menerima semua kondisi tersebut dengan rasa syukur. Setelah kurang lebih 2 jam akhirnya aku mendapatkan ijazah dan transkip yang sudah dilegalisir dan langsung pulang ke kos (di Indralaya). 

Foto dengan tetap jaga jarak dan pakai masker (minus satu karena buru-buru pualang ditunggu travel)

Sekitar pukul 2 siang kami bertolak meninggalkan Indralaya. Selama perjalanan aku tidak lepas dari hp karena pada pukul 15.00 hari itu akan ada acara pembekalan dan pelepasan alumni yang dilakukan program studi secara online yang mau tak mau harus diikuti. Di perjalanan aku sempat meminta berhenti karena mengkhawatirkan kondisi sinyal untuk mengikuti acara tersebut, tetapi karena khawatir sampai dirumah terlalu malam akhirnya kami memutuskan melanjutkan perjalanan dengan harapan sepanjang perjalanan sinyal akan stabil. 

Diantara kami berempat yang hari itu dilepas hanya satu orang yang tidak dalam perjalanan sisanya sama sepertiku, alhasil hingga pukul setengah 4 baru 2 diantara kami yang hadir walaupun sudah ditelpon berkali-kali. Rangkaian acara dilaksanakan walupun tidak dengan formasi lengkap, ketika hendak sambutan mewakili alumni baru, temanku yang didaulat (yang tidak dalam perjalanan) tiba-tiba menghilang dari forum. Jadilah aku merupakan satu-satunya, sehingga mau tak mau aku yang melakukan sambutan dan kesan pesan. Di tengah heticnya kondisi perjalanan dan latar belakang barang ditumpuk dibelakang mobil aku memberikan sambutan seadanya. Setelah selesai kembali aku mutekan akun ku, kemudian beberapa saat dari itu aku baru tersadar bahwa ketiaka sambutan tadi aku bahkan tidk mengucapkan salam dan penghormatan (bilang yang terhormat) padahal disitu ada beberapa dosen dan pengurus ikatan alumni πŸ˜–. 

Sepanjang perjalanan aku bersyukur sekali karena sinyal tetap stabil (untung pakai provider tel---) sehingga aku tetap bisa menyimak jalanya acara sampai selesai pada waktu pukul setengah 5. Jangan dibayangkan aku dapat menyimak dengan khidmat, setengah jalanya acara kau putuskan untuk memejamkan mata dan membiarkan akun ku tetap terhubung meskipun kamera dimatikan karen akau mulai mengalami mual dan sakit kepala (tanda mabuk perjalanan) ditambah kondisi sedang berpuasa.

Akhir dari cerita panjan episode ini adalah ketika pukul 8 malam kami sampai di rumah.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi saat ini sangat jauh dari bayangan, tetapi: 
Allah tidak pernah salah memilihkan jalan untuk siapa-siapa yang dikehendakinya. 
Bisa jadi hari ini kita belum menyadari bahwa apa-apa yang terjadi pada hari ini adalah yang terbaik untuk kita, tapi lihat saja besok atau lusa.

Mana mungkin dapat kusembunyikan syukur hanya karena satu diantara banyak perkara tidak sesuai keinginan ku ?
Rani Oktapiani
Hanya seorang seperti kebanyakan orang

Related Posts

20 komentar

  1. Terbayang sih mba sedihnya wisuda yang ditiadakan ini setelah segala perjuangan menujunya. Segala malam malam lelah, tidak tidur, sekian banyak kehawatiran. Wisuda menjadi momen mengapresiasi diri sendiri setelah berjuang, tapi kali ini ia ditiadakan.

    Semangat mba. Ketiadaan wisuda ini ga mengurangi nilai dari gelar sarjana itu sama sekali. Perjuangan mba tetap sudah dinilai sebagai sebuah peperangan yang sudah mba menangkan :)

    BalasHapus
  2. Selamat jadi sarjana, Ranii.

    BalasHapus
  3. ada yang lebih sedih, sampe sekarang masih di layo berjuang untuk menyelesaikan kuliah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat ya,
      Btw saya nggak bilang bahwa hal ini menyedihkan loh 😁

      Hapus
  4. Wisudah tahun ini akan jadi sejarah, uwihh wisudah onlenπŸ˜…

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sejarah, karena salah satu ciri sejarah adalah unik.

      Hapus
  5. Pas baca judulnya bikin deg2an
    . Buka gak ya wkwk.. tp terharu sama perjalanannya mbak.. ya pasti, ini yang terbaik. Kalo gak sekarang, mungkin nanti hehe. Semangat mbak rani..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat juga Maya,
      Iya Insyaallah 😊

      Hapus
  6. Alhamdulillah, selalu ambil sisi positifnya aja sih. Ya walaupun nyesek. Tapi yg terpenting itu, ilmunya. Wisuda semoga jadi pelengkap, yang kalaupun dak ada. Kita tetap biasa aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, Aamiin. Gak nyesek juga sih πŸ˜€

      Hapus
  7. Barakallah fii ilmi Mbakku :) Nanti photo aja di studio, dicetak,kemudian ditempel di buku itu photonya hehe btw, ternyata Mbak juga pernah mabuk ya dalam perjalanan. Sama puun. Rena nyaris setiap naik kendaraan roda empat ya gitu :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, makasih rena. Hampir ren πŸ˜„

      Hapus
  8. Gak kebayang rasanya wisuda di tengah pandemi seperti ini. Bercampur aduk pastinya, mau nunda ikutan wisuda tahun depan kan gak mungkin hehe

    Ini udah keputusan yang terbaik mbak, barakallah ya mbak semoga ilmunya bermanfaat 😊

    BalasHapus
  9. Barakallah mbak, selalu ada hal baik disetiap peristiwa. Ya, meskipun lulus jalur korona, agak sedikit nyesek emang wkwk.

    BalasHapus
  10. Barakallah, semoga berkah ilmunya.
    kita semua beruntung ya bisa jadi bagian dari momen bersejarah d bumi.
    Beruntung jadi bagian dari transisi perubahan pola hidup masyarakat. banyak yg bisa di jadikan pelajaran.
    termasuk dlm proses wisuda, dan temen2 yg masih semester akhir.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih telah membaca, bagaimana menurut mu ?

Subscribe Our Newsletter